Saat Cinta Berpaling
Saat Hati Menjelma Serpihan-serpihan kecil
Saat ujian demi ujianNya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri
Maka kemana seorang istri harus mencari kekuatan
Agar hati mampu terus bertasbih?
Telah kutinggalkan cemburu
di sudut kamar gelap
telah kuhanyutkan duka
pada sungai kecil yang mengalir dari mataku
telah kukabarkan lewat angin gerimis
tentang segala catatan hati
yang terhampar di tiap jengkal sajadah
dalam tahajud dan sujud panjangku
(Asma Nadia, 2007)
Salah satu komentar diawal buku adalah "kenapa saya harus menikah lagi. luka hati istri pertama sudah pasti. sedangkan kebahagiaan dengan istri kedua tidak ada yang menjamin".
hmmm... bagaimana bapak-bapak? setujuuuh?.kalimat diatas bukan mbak asma nadia lhoh yang nulis. tapi pengakuan jujur dari salah seorang "bapak" yang diajak diskusi bareng mbak asma.
Dalam buku ini, mbak asma (dan juga penulis kisah nyata yg lain) cenderung "ih..kalo bisa jangan polygami deh... :D". tapi jujur, ada satu kisah di buku ini yang menurut saya kurang "bijak". (entah menurut yang lain). diceritakan ada seorang suami yang berselingkuh. dengan anak gadis pula. nah ketika sang istri mengetahui penghianatan itu, si istri dengan "legowo bin nrimo" mempersilahkan suaminya untuk memilih. tragisnya si suami lebih memilih istrinya dibanding slingkuhannya. lhooh kok tragis??? justru baik dunk??. oh..no no no... :P menurut saya itu tragis.
why?
jelas sekali si suami sudah berzina dengan selingkuhannya. si selingkuhan down ketika ditinggal dan mencoba bunuh diri. keluarga si perempuan kalang kabut dan mencoba meminta pertanggungjawaban. namun, dengan alasan bahwa "sayalah yang paling tersakiti", si istri mencoba memaafkan suaminya. bahkan menyuruh suaminya melupakan selingkuhannya, demikian juga sebaliknya, menyuruh selingkuhan suaminya untuk pergi jauh dari kehidupan mereka.
mungkin sebagian orang membenarkan sikap si istri tersebut. tapi entah kenapa saya tidak setuju. bukankan kedua orang tua si selingkuhan juga tersakiti? bayangkan anak gadisnya "rusak" dan tidak ada jalan untuk dininikahi. memang perempuan itu bersalah, tapi bukankan tobat yang paling baik dari orang yang terlanjur berzinah adalah dengan menikah?. bukankah islam telah membenarkah polygami sebagai jalan darurat?...
hmmm.. itu opini pribadi si....
(enak banget ya yang jadi suami.... )